Tinjauan Pustaka: Landasan Teoretis CIVM
CIVM bukan sekadar penggabungan metrik acak, melainkan sintesis dari berbagai kerangka teoretis yang telah teruji. Bab ini menguraikan landasan akademis dan praktis yang menjadi pondasi arsitektur lima pilar CIVM.
2.1 Teori Valuasi Benjamin Graham
Filosofi Inti
Benjamin Graham, bapak Value Investing, menekankan pembelian aset di bawah nilai intrinsiknya untuk menciptakan Margin of Safety (MoS). CIVM mengadopsi dan memodifikasi dua formula utama Graham:
Graham Formula (Modifikasi)
Fair Value = EPS × (8.5 + 2×Growth) × 4.4 / Bond_Yield
Dengan adjustment eksponensial untuk growth negatif
Graham Number
Graham Number = √(22.5 × EPS × BVPS)
Estimasi konservatif harga maksimum yang wajar
Adaptasi CIVM
Formula Graham tradisional sering menghasilkan valuasi terlalu optimis di pasar modern. CIVM memodifikasi konstanta Graham, menyesuaikan dengan yield obligasi Indonesia, dan menambahkan pembobotan CV (Coefficient of Variation) serta adjustment DPR (Dividend Payout Ratio).
2.2 Prediksi Kebangkrutan (Altman Z-Score)
Edward Altman (1968) memperkenalkan model diskriminan multivariat untuk memprediksi probabilitas kebangkrutan. Z-Score menggabungkan lima rasio keuangan dengan bobot berbeda:
Z = 1.2×X₁ + 1.4×X₂ + 3.3×X₃ + 0.6×X₄ + 1.0×X₅
X₁ = Working Capital / Assets
X₂ = Retained Earnings / Assets
X₃ = EBIT / Assets
X₄ = Market Value Equity / Total Liabilities
X₅ = Sales / Assets
Z > 2.99
1.81 - 2.99
Z < 1.81
Dalam CIVM, Z-Score digunakan tidak hanya sebagai peringatan biner (bangkrut/aman), tetapi sebagai spektrum risiko yang mempengaruhi bobot alokasi portofolio secara dinamis. CIVM juga mengadaptasi Z-Score untuk berbagai sektor (Banking, Insurance, Mining, dll) dengan threshold dan bobot komponen yang disesuaikan.
2.3 Analytic Hierarchy Process (AHP)
Thomas L. Saaty mengembangkan AHP sebagai metode pengambilan keputusan multi-kriteria. CIVM menggunakan AHP untuk mengkalibrasi bobot relatif antar lima pilar analisis.
Matriks Perbandingan Berpasangan (Skala Saaty 1-9)
| Kriteria | Valuasi | Risiko | Filter | Alokasi | Pengelolaan |
|---|---|---|---|---|---|
| Valuasi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
| Risiko | 1/2 | 1 | 2 | 3 | 4 |
| Filter | 1/3 | 1/2 | 1 | 2 | 2 |
| Alokasi | 1/4 | 1/3 | 1/2 | 1 | 2 |
| Pengelolaan | 1/5 | 1/4 | 1/2 | 1/2 | 1 |
Hasil Kalibrasi Bobot
Consistency Ratio (CR) = 0.045 < 0.1 ✓ Konsisten
2.4 Teori Portofolio & Risiko
| Teori | Fokus Risiko | Pendekatan CIVM |
|---|---|---|
| Modern Portfolio Theory (Markowitz) | Volatilitas Standar (Standard Deviation) | Dianggap kurang akurat karena memperlakukan kenaikan harga (upside) sebagai risiko. |
| Post-Modern Portfolio Theory | Risiko Penurunan (Downside Risk / Semivariance) | Diadopsi melalui Sharpe Ratio Fundamental (SRF) yang lebih menghukum volatilitas fundamental negatif. |
2.5 Algoritma Sainte-Laguë
Dikembangkan oleh matematikawan Prancis André Sainte-Laguë (1910) untuk alokasi kursi parlemen yang proporsional. Algoritma ini meminimalkan disproporsi perwakilan.
Aplikasi dalam Investasi
CIVM mengadaptasi metode pembagi ini untuk Alokasi Aset:
- "Suara" = CapG (Capital Gain weighted score)
- "Kursi" = Slot dana (0.1% per unit, total 1000 unit)
Priority = allocation_score / (2 × current_seats + 1)
Metode ini memastikan saham dengan skor fundamental tertinggi mendapat alokasi optimal tanpa mendominasi portofolio secara berlebihan.
2.6 Analisis Teknikal sebagai Filter
CIVM menolak dikotomi Fundamental vs Teknikal. Sesuai Fusion Analysis:
Fundamental
Menjawab: "Apa yang dibeli"
Teknikal
Menjawab: "Kapan membelinya"
- Dow Theory: Mengidentifikasi tren primer.
- Wyckoff Method: Memahami fase akumulasi dan distribusi (Smart Money).
- VWAP Kumulatif: Konfirmasi dukungan volume terhadap harga.