Skandal Chromebook: Ambisi Digitalisasi yang Tersandung
Pada 4 September 2025, Nadiem Makarim ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang merugikan negara triliunan rupiah.
Total Anggaran Proyek
Rp 9,9 T
Untuk 1,1 Juta Unit di 77.000 Sekolah
Estimasi Kerugian Negara
Rp 1,98 T
Akibat Dugaan Mark-up & Biaya Tidak Perlu
Detail Kasus Korupsi Chromebook
Alokasi Kerugian Negara
Kerugian negara sebesar Rp1,98 triliun diduga berasal dari dua komponen utama: penggelembungan harga perangkat keras dan biaya lisensi perangkat lunak yang dinilai tidak perlu.
Modus Operandi Korupsi
-
1
Penguncian Spesifikasi
Menerbitkan Permendikbud yang mengunci spesifikasi ke ChromeOS, membatasi persaingan dan diduga menguntungkan Google.
-
2
Mengabaikan Uji Coba
Uji coba 2019 yang gagal dan ditolak menteri sebelumnya, tetap dilanjutkan oleh Nadiem.
-
3
Distribusi Gagal Sasaran
Memaksakan perangkat yang bergantung internet ke daerah 3T tanpa infrastruktur memadai.
Kronologi Kasus Chromebook
2019: Perencanaan Awal
Sebelum dilantik, Nadiem dan timnya telah merencanakan digitalisasi pendidikan dengan fokus pada Chromebook.
2020: Pengarahan & Intervensi
Nadiem menggelar pertemuan dengan Google dan mengadakan rapat Zoom tertutup, mengarahkan penggunaan Chromebook sebelum pengadaan resmi dimulai.
2021: Regulasi Diterbitkan
Permendikbud No. 5/2021 terbit, mengunci spesifikasi ChromeOS yang menjadi dasar hukum pengadaan kontroversial ini.
2025: Penetapan Tersangka
Setelah penyelidikan panjang oleh Kejagung, Nadiem ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.
Dinamika GOTO: Surga bagi Pendiri, Neraka bagi Investor Ritel?
Sebelum skandal Chromebook, pola kepemimpinan berisiko Nadiem telah terlihat dalam saga IPO GOTO, di mana keuntungan pribadi berbanding terbalik dengan kerugian investor publik.
Kejatuhan Saham GOTO
Setelah IPO dengan valuasi fantastis, saham GOTO anjlok drastis, menyebabkan kerugian besar bagi investor yang terjebak dalam euforia.
Kontras Kekayaan
Nadiem diduga menjual sahamnya sebelum IPO dengan keuntungan triliunan, sementara GOTO sendiri mengakumulasi kerugian puluhan triliun pasca-IPO.
Pola Berulang: Analogi Tesla di Pelosok
Kebijakan Nadiem, dari GOTO hingga Chromebook, ibarat memaksakan mobil Tesla di daerah terpencil: canggih, inovatif, namun tidak adaptif dan mengabaikan kondisi nyata di lapangan, yang akhirnya berujung pada kegagalan dan kerugian.
GOTO
➔
Chromebook
➔
Kurikulum Merdeka
➔
Implikasi dan Pelajaran
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa inovasi tanpa tata kelola yang baik dan adaptasi terhadap konteks lokal dapat berujung pada kegagalan sistemik, merugikan kepercayaan publik, keuangan negara, dan investor. Diperlukan pengawasan yang ketat dan kebijakan yang berbasis bukti, bukan sekadar citra kemajuan.