1. Pengumpulan Data Otomatis
AutoPortofolio secara otomatis mengunduh laporan keuangan dari semua perusahaan yang terdaftar di bursa. Data yang dikumpulkan meliputi:
- Laporan Laba Rugi: Pendapatan, laba bersih, dan pertumbuhan usaha
- Neraca Keuangan: Aset, utang, dan modal perusahaan
- Arus Kas: Aliran uang masuk dan keluar perusahaan
- Data Dividen: Pembagian keuntungan kepada pemegang saham
- Harga Saham: Harga pasar terkini dan historis
Semua data ini diproses menggunakan format XBRL (standar internasional pelaporan keuangan) sehingga hasilnya akurat dan konsisten.
2. Perhitungan Nilai Wajar
Sistem menghitung berapa harga yang "pantas" untuk setiap saham dengan mempertimbangkan beberapa faktor:
- Laba Per Saham (EPS): Berapa banyak keuntungan yang dihasilkan per lembar saham
- Nilai Buku (BVPS): Nilai aset perusahaan dibagi jumlah saham
- Pertumbuhan: Seberapa cepat perusahaan berkembang dari waktu ke waktu
- Dividen: Seberapa rajin perusahaan membagikan keuntungan
- Rasio Keuangan: ROE, ROA, dan metrik profitabilitas lainnya
Hasilnya adalah harga wajar yang menjadi patokan: jika harga pasar lebih rendah, saham tersebut potensial untuk dibeli.
3. Evaluasi Risiko Bisnis dengan Z-Score & SRF
Tidak semua saham yang murah itu bagus. AutoPortofolio menggunakan Z-Score untuk mengukur kesehatan keuangan dan SRF (Sharpe Ratio Fundamental) untuk mengukur kestabilan penciptaan nilai:
| Kategori | Kriteria |
| Aman | Keuangan sehat, risiko kebangkrutan rendah |
| Abu-abu | Perlu perhatian, ada potensi masalah keuangan |
| Bahaya | Risiko tinggi, hindari investasi |
Sistem juga memeriksa tingkat utang, likuiditas, stabilitas arus kas, dan kestabilan ekuitas untuk memastikan perusahaan layak investasi jangka panjang.
4. Membaca Cuaca Pasar dengan Market Pulse
Saham yang bagus bukan satu-satunya pertimbangan. Waktu membeli juga penting — dan waktu itu sangat dipengaruhi kondisi pasar secara umum.
Karena itu, sebelum menentukan alokasi, sistem terlebih dahulu membaca "cuaca" pasar lewat Market Pulse:
- Kesehatan pasar: apakah kenaikan IHSG didukung banyak saham, atau hanya segelintir saham besar (rally rapuh)
- Posisi harga terhadap CVWAP: seberapa jauh pasar dari harga rata-rata kesepakatannya
- Kecepatan kenaikan, gejolak, dan kedalaman penurunan: mendeteksi tekanan atau euforia berlebihan
- Arus asing dan kurs: konfirmasi tambahan arah minat investor luar negeri
Seluruh sinyal itu dirangkum menjadi Skor Risiko 0-100, dikelompokkan ke dalam fase pasar
(Normal Rally Sehat
Rally Rapuh Crash
Transisi), lalu diterjemahkan menjadi target cash:
berapa persen dana yang sebaiknya ditahan sebagai uang tunai.
Pembagian tugas yang tegas: Market Pulse tidak memilih saham. Ia hanya mengatur berapa banyak
cash yang disimpan. Saham mana yang layak dibeli tetap ditentukan oleh nilai wajar (langkah 2) dan risiko bisnis (langkah 3).
Pelajari Market Pulse lebih dalam
5. Alokasi Dana yang Adil & Tahan Pasar Rapuh
Setelah menemukan saham-saham yang bagus dan tahu kondisi pasar saat ini, sistem menentukan berapa persen dana yang ditempatkan di masing-masing saham:
- Kapitalisasi Pasar: Perusahaan besar mendapat porsi lebih besar karena lebih stabil
- Free Float Ratio: Mempertimbangkan berapa banyak saham yang benar-benar diperdagangkan publik
- Skor Valuasi: Saham dengan nilai terbaik mendapat prioritas lebih tinggi
- Cash buffer dari Market Pulse: pembelian baru hanya memakai cash di atas target yang sudah ditetapkan sistem
- Diversifikasi: Tidak menempatkan semua telur dalam satu keranjang
Sistem menggunakan metode priority queue untuk membagi dana secara proporsional, dikekang oleh cash buffer dari Market Pulse.
Hasilnya adalah portofolio yang seimbang dan optimal — sekaligus tidak kehabisan amunisi saat pasar sedang rapuh.
Apabila pasar berubah, penyesuaian cash dilakukan bertahap dan dibatasi pagar pengaman sehingga tidak gegabah.